Skip to main content

Novel : Saling Mencintai Tapi Tak Bisa Memiliki

Dickyanyo.com - Novel : Saling Mencintai Tapi Tak Bisa Memiliki - Banyak hal yang tidak bisa kita miliki di dunia ini hanya bisa kita miliki di dalam mimpi, meski sudah berusaha keras untuk mendapatkannya namun hasilnya masih tetap sama, kita tidak bisa mendapatkannya.

Cinta datang dan pergi seperti angin berlalu, hanya bisa dirasakan tanpa bisa dilihat. Hanya bisa mencintai tanpa memiliki. Sebuah rasa muncul dari mata turun ke hati dan menyebar melalui aliran darah, tak terasa hati hampa karena dia yang kita cinta pergi untuk selamanya.

Aku bukan orang yang pandai dalam merangkai kata, menyusun kata demi kata menjadi sebuah kalimat indah yang dapat kau baca. Aku hanya manusia yang memiliki perasaan dan sulit untuk di ungkapkan, hanya dengan tulisan ini aku bisa menyampaikan apa yang aku rasakan selama ini.

Aku marah kepada diri ku sendiri, bukan marah kepada mu atau mereka, aku bodoh membiarkan mu pergi untuk selamanya, semua berlalu begitu cepat dan kini hanya penyesalan yang aku rasakan. Andai saja dulu aku berani untuk mengungkapkan semua perasaanku, mungkin penyesalan ini tidak akan begitu dalam aku rasakan.

Lebih dari 3 tahun aku pendam perasaanku dan sekarang aku hanya bisa ungkapkan semuanya dalam tulisan yang ku buat ini, semakin lama aku pendam bayang wajah mu selalu mampir dalam benakku, rangkulan tanganmu selalu menghiasi malam ku bahkan terkadang kamu hadir dalam pandangan ku dan baru ku sadari semua itu hanyalah ilusi.

Begitulah kisah cinta ku yang terdengar sangat bodoh, bisa dikatakan jika aku adalah seorang lelaki yang tak bisa mendapatkan hati wanita yang aku cintai dan baru ku tahu jika pada kenyataan nya dia pun memiliki hati yang sama denganku, namun karena keberanian ku yang kurang sehingga dirinya lebih memilih untuk pergi selamanya.

3 tahun lalu aku mengenal seorang wanita yang begitu manis dan aku tahu dia adalah salah satu wanita yang disukai banyak pria dan mungkin aku adalah pria yang kesekian yang memiliki rasa cinta kepadanya, kini dia memang sudah menikah dengan pria lain dan memiliki seorang anak yang baru berusia 1 tahun.

Penyesalan ku mulai terasa ketika mengetahui jika dirinya telah di persunting pria lain rasanya aku sangat menyesal karena dulu belum sempat untuk menyatakan cinta yang ada dalam hatiku. Sebuah kejadian yang tak pernah aku bayangkan terjadi beberapa hari lalu, kala itu aku sedang bersantai di sebuah kafe dan disana juga aku melihat wanita yang tak asing lagi di mata ku.

Ya, dia adalah wanita yang selama ini aku cintai, dia datang sendiri di kafe itu dia juga duduk seorang diri, aku sengaja hanya melihat dirinya dari kejauhan dan saat  itu aku juga belum tahu jika dirinya sudah menikah, aku pikir wajahnya sama sekali tidak berubah dan hanya beberapa perubahan dari gaya pakaiannya saja.

Tengah asik memandang nya dari kejauhan aku melihat jika ia meneteskan air mata di kafe itu, aku palingkan pandanganku untuk mencari orang lain yang mungkin datang bersamanya, namun disana aku tidak menemukan orang yang datang bersamanya dan aku pikir dia memang benar-benar seorang diri.

Dirinya yang saat itu tengah menangis membuat aku semakin penasaran, aku kembali berpikir apakah mungkin dia baru putus cinta, atau masalah lainnya. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas dalam pikiranku dan rasanya aku semakin penasaran dengan yang terjadi kepadanya.

Baca : Apa Yang Harus Aku Lakukan ?

Segala keberanian aku persiapkan untuk menghampirinya, dengan rasa gugup, malu dan takut aku terus memberanikan kaki ini melangkah kepadanya. Belum sampai di tempat ia duduk, dia sudah melihatku lebih dulu dan dengan sigapnya ia langsung menghapus air matanya.

Terlihat jelas jika wajahnya yang menggambarkan suatu kesedihan dan dengan paksaan ia memberikan senyuman kepadaku, aku percepat langkahku untuk menghampirinya dan disanalah aku baru pertama kali berbicara 4 mata dengan wanita yang sangat aku cintai.

Tanpa dipersilakan duduk aku langsung duduk saja dan aku mencoba untuk seolah berani dan merasa cuek padahal sebenarnya jantung ini terasa akan copot. Sama seperti orang kebanyakan yang bertemu dengan teman lama, aku juga demikian menanyakan kabar sampai berbincang-bincang dan bodohnya aku malah dia yang lebih dulu bertanya kepadaku.

Lena   : Andi apa kabar? Sedang apa kamu disini?
Aku    : Aku baik Len, biasa aku sedang santay aja Len. Kamu sendiri sedang apa disini? (Dengan wajah yang sangat gugup dan malu)
Lena   : Enggak ndi, aku cuma lagi pengen nenangin dirinya. (Jawaban cuek dengan wajah yang masih sedih)
Aku     : Oh gitu ya Len, tadi aku lihat dari jauh kamu nangis? Kamu bisa cerita sama aku kalo ada masalah siapa tau aku bisa bantu kamu? (So Cool)
Lena    : Ahhh.... Enggak kok ndi cuma masalah keluarga aja sih, biasa lah kalo udah rumah tangga suka ada aja masalah.

Saat itulah aku baru tahu jika Lena ternyata sudah menikah dan hati ini rasanya benar-benar sangat hancur sekali, dari situ juga aku merasa sangat menyesal karena dulu aku tak sempat ungkapkan semua perasaan ku.
Dengan mencoba untuk tenang aku pun kembali bertanya kepada Lena.

Aku      : Oh kamu udah nikah Len, kapan? kok aku gak di undang? (Seolah biasa padahal jantung deg... deg.... cenut.... cenut....)
Lena     : Iya ndi, udah lama sih udah satu tahun lebih. Sorry ndi soalnya aku nikah di luar kota jadi kebanyakan temenku disini juga pada gak di undang. Tapi sudahlah ndi gak usah di bahas aku lagi gak mau bahas soal pernikahanku itu.
Aku      : Kok begitu len kan harusnya bahagia dong? (Biar dia curhat aja sih soalnya kepo)
Lena     : Ya kalo dulu sih aku ngerasa bahagia waktu awalan nikah ndi, tapi kok setelah punya anak ada perubahan dari suami ku, apalagi sekarang suami ku nganggur gak kerja. Setiap hari dia sukanya marah-marah terus sama aku, kalo aku balas marah dia juga malah makin marah, padahal dulu itu dia baik banget sama ku, tapi udah hampir 4 bulan ini dia berubah total.
Lena     : Ndi sorry ya aku malah jadi ngomong yang seharusnya aku gak ngomong sama orang lain, tapi rasanya udah terlanjut aku butuh temen curhat.
Aku      : Engga apa-apa Len, kalo kamu mau curhat, curhat aja aku siap dengerin kamu kok.
Lena     : Tapi gak usah deh ndi, pada intinya sih sekarang aku cuma lagi pengen nenangin diri aja aku capek kalo harus di bentak, di maki setiap hari.
Lena     : Oh ya ndi, kamu sendiri gimana udah nikah?
Aku      : Lah boro-boro Len, semenjak dulu kenal sama kamu sampe sekarang aja aku belum punya cewek.

Semakin lama kami semakin asik berbincang-bincang dan aku berpikir apakah salah jika aku coba untuk mengatakan perasaan ku dari dulu kepadanya? Pertanyaan itu selalu terlintas dan rasanya mulut ini ingin sekali berbicara semua kepadanya, tapi aku juga masih belum berani walaupun aku tahu kini Lena sudah menikah dan rasanya aku berdosa jika aku ungkapkan perasaan pada istri orang.

Baca : Rindu Yang Takkan Bisa Kembali

Namun dari rasa berdosa itulah aku tidak ingin kembali menyesal, dari pada aku terus memendam semua perasaan ku kepadanya lebih baik aku ungkapkan saja dan dengan begitu mungkin aku bisa melupakannya dan membuka hati untuk wanita lain.

Sebelum aku berbicara tentang perasaan ku kepada Lena, ternyata malah dia yang lebih dulu mengatakan sebuah kalimat yang sangat menusuk sekaligus membuat aku sangat menyesal seumur hidup.

Lena    : Ndi sebenarnya dulu tuh aku suka sama kamu, tapi udah lama aku tunggu kamu bicara tapi nggak bicara-bicara.
Lena    : Tadinya aku sudah niat mau bicara, tapi setelah aku pikir lagi masa wanita yang lebih dulu ngomong sama pria.

Aku benar-benar merasa terkejut dengan kalimat yang baru saja Lena katakan, aku merasa jika aku adalah pria yang benar-benar bodoh yang mengalah dengan rasa malu untuk berkata jujur. Tetapi saat itu juga aku ungkapkan semuanya karena Lena sudah membuka kan jalan untuk ku berbicara, walaupun aku tahu sangat tidak mungkin untuk bisa memilikinya.

Aku    : Len sorry kalo misalkan aku salah, dari awal aku kenal sama kamu sebenarnya aku juga suka sama kamu, tapi aku gak tahu cara ungkapin perasaan itu sama kamu gimana.
Aku   : Apalagi aku juga tau kalo banyak banget pria yang suka sama kamu dan aku ngerasa semakin mustahil untuk bisa memiliki hati kamu.
Lena  : Ndi kenapa kamu baru sekarang bilang sama aku, coba dari dulu kamu bilang sama aku, mungkin aku juga gak bakal nikah sama orang lain.
Lena   : Memang dulu banyak pria yang coba deketin aku dan bahkan banyak juga yang bicara jika mereka cinta sama aku, tapi semuanya aku tolak.
Lena   : Entah kenapa hati aku malah suka sama cowok pendiam, pemalu dan kalo ditanya itu malah nunduk, yaitu itu kamu Andi.
Aku    : Iya Len, aku juga nyesel karena aku kalah sama rasa malu aku, selama ini aku gak bisa buka hati sama wanita lain karena di hati aku masih ada kamu.
Aku    : Sudah aku coba buat lupain kamu, tapi semakin aku berusaha lupain kamu malah jadi sebaliknya. Aku bener-bener nyesel karena dulu gak bisa bicara jujur sama kamu.
Aku    : Tapi aku juga sadar kok Len, kalo sekarang semuanya udah berubah dan rasanya udah gak mungkin lagi buat aku bisa jadi pendamping hidup kamu.
Aku   : Sekarang kamu sudah menikah dan aku juga gak mau ngerusak rumah tangga kamu, tapi aku hanya berharap bisa ngeliat kamu bahagia sama suami kamu sekarang, kamu itu cewek yang pantas untuk di bahagiakan bukan untuk di buat menangis kaya tadi.
Lena   : Iya ndi, makasih banyak ya ndi. Ternyata selama ini aku juga udah salah karena aku juga memilih pria lain karena aku pikir dulu tuh kamu gak ada perasaan sama aku.
Lena   : Sekarang memang sudah berbeda dan kita gak mungkin bisa bersama, tetapi kita masih bisa kontekan sebagai sahabat ndi dan aku juga ingin lihat kamu buka hati buat wanita lain yang nanti jadi pendamping kamu, aku juga bakalan berusaha ngerubah sifat suami aku.

Semenjak kejadian itulah aku baru sadar jika memang sudah memiliki rasa cinta lebih baik untuk di perjuangkan dan mencoba untuk di ungkapkan, entah itu diterima atau ditolak yang terpenting mengungkapkan perasaan itu jauh lebih tenang rasanya.

Mungkin sebelum aku bertemu dengan Lena aku masih merasa sangat tersiksa dengan perasaan cinta yang tak bisa aku ungkapkan kepadanya, tetapi semua berubah seketika setelah semua perasaan yang terpendam 3 tahun lamanya berhasil di ungkapkan.

Memang sakit rasanya mendengar orang yang kita cinta sudah menikah dengan orang lain, tapi jika saja dulu aku berani untuk mengungkapkan perasaanku, mungkin semua itu takkan terjadi dan bisa saja aku yang menjadi suaminya sekarang.

Baca : Cinta Kembali Pada Masa Lalu

Dari kejadian itu juga aku bisa membuka hati untuk wanita lain, selain itu aku juga masih bisa saling berhubungan dengan Lena untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar. Mungkin kita memang saling mencintai tetapi kita tidak bisa saling memiliki dan semua itu karena kesalahan ku di masa lalu yang merasa malu untuk berkata jujur tentang perasaan ku sendiri.

Sekarang aku akan merubah semuanya dan berharap ada seorang wanita yang bisa menjadi pendamping hidup ku. Walaupun aku tak bisa bersama dengan Lena, tapi aku merasa bahagia saat mendengar kabarnya tentang keluarganya yang kembali harmonis.

Penyesalan itu bukan dijadikan sebagai penghambat langkah kita untuk mencari kebahagiaan, tetapi jadikanlah penyesalan mu sebagai satu semangat baru dalam hidup mu, jangan pernah menyalahkan masa lalu dan jangan pernah menyesali nya, karena tanpa masa lalu kita takkan bisa merasakan kebahagiaan sementara, kesakitan, kesedihan, rasa kecewa dan masih banyak yang kita rasakan dari masa lalu.

Jadikan semuanya sebagai langkah awal menuju kebahagiaan mu, semua orang pantas mendapatkan kebahagiaan nya dan jangan pernah merasa malu untuk ungkapkan semua perasaan mu, mau itu di tolak atau di terima, berusahalah untuk menerima kenyataan. Semoga Novel singkat ini menjadi pelajaran baru bagi kita semua.


Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar